Oleh : H. Furqon Karim, SE MM

DARI Ibnu Mas`ud ra., bahwa Nabi SAW bersabda: “Apabila mereka itu berpuasa bulan Ramadhan dan keluar untuk menunaikan Shalat ‘Id (shalat hari raya), maka Allah Ta`ala berfirman: “Hai para malaikat Ku, tiap-tiap orang yang beramal akan mendapatkan upahnya; dan para hamba-Ku yang berpuasa pada bulan Ramadhan dan keluar menunaikan Shalat ‘Id,juga mengharapkan pahalanya. Maka oleh karena itu saksikanlah, bahwa sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka”.‎

Setelah umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan satu bulan penuh, tibalah saatnya umat Islam merayakan hari raya yang dikenal dengan Idul Fitri Dinamakan Idul Fitri karena manusia pada hari itu laksana seorang bayi yang baru keluar dari dalam kandungan yang tidak mempunyai dosa dan salah.

‎Idul Fitri adalah hari raya yang datang berulangkali setiap tanggal 1 Syawal, yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari.

Artinya kata fitri di sini diartikan “berbuka” atau “berhenti puasa” yang identik dengan makan minum. Maka tidak salah apabila Idul Fitri disambut dengan makan-makan dan minum-minum yang sewajarnya dan tidak berlebihan. ‎

Rasulullah.saw bersabda : “Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Ya Rabbi, aku mencegahnya makanan dan syahwat, maka berilah aku syafaat karenanya.’ Al-Qur’an berkata, ‘Aku mencegahnya tidur pada malam hari, maka berilah aku syafaat karenanya’. Beliau bersabda, ‘Maka keduanya diberi syafaat’,”(Diriwayatkan Ahmad)

Idul Fitri juga diartikan dengan kembali ke fitrah (awal kejadian). Dalam arti mulai hari itu dan seterusnya, diharapkan kita semua kembali pada fitrah. Di mana pada awal kejadian, semua manusia dalam keadaan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan. ‎

‎Setidaknya ada 4 (Empat) sikap yang harus tertanam terkait menyambut Idul Fitri, yakni : ‎

Sikap penuh harap akan ampunan Allah SWT, sebagai ‘reward’ atas usaha kerasnya menghiba kepada Allah dalam bulan Ramadhan dengan menahan hawa nafsu dan melaksanakan amalan Ramadhan lainnya. ‎

Bermuhasabah pada diri sendiri terhadap ibadah puasa yang telah kita lakukan. Apakah puasa Ramadhan hanya sekedar menggugurkan kewajiban atau benar-benar puasa sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW. 

Diharapkan setelah puasa kita mampu menjaga seluruh anggota badan dan hati kita dari perbuatan mungkar dan maksiat.

Selalu semangat dalam mempertahankan predikat “muttaqin”, yang telah diperoleh usai Ramadhan dengan jalan meningkatkan kualitas ketakwaan kita sampai akhir hayat.  

Firman Allah SWT: “Hai orang yang beriman, bertagwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kati kamu mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam ” (QS. Ali Imran: 102).‎

Semoga setelah satu bulan digembleng dalam kawah Ramadhan, kita bisa memaknai arti Idul Fitri yang sesungguhnya, yakni kita selalu berusaha untuk menjaga kesucian yang telah diperoleh karena mendapatkan ampunan dari Allah SWT dengan jalan meningkatkan ketaqwaan secara sungguh-sungguh.

H. Furqon Karim, SE, MM. Alumni Unsoed – Sekretaris Yayasan Masjid Muhajirin Banyumanik‎, Semarang.