Hallobogor.com, Dramaga – Tim peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) yakni Dodik Briawan, Yudhi Adrianto, Dian Hernawati, Elvira Syamsir dan Muh. Aries menganalisis hubungan konsumsi pangan, bioavailibitas dan status anemia pada siswi remaja di Kabupaten Bogor.

Peneliti berasal dari Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pangan dan Pertanian Asia Tenggara (Seafast Center), Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia (Fema), serta Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta).

Data yang dikumpulkan pada tahun 2012 ini berasal dari 74 siswi remaja yang meliputi konsumsi pangan dengan recall 2 x 24 jam dan kadar hemoglobin. Kriteria remaja putri yang dijadikan contoh adalah remaja putri yang sudah menstruasi, bersedia berpartisipasi penelitian dan tidak menderita sakit.

Jenis data yang dikumpulkan meliputi karakteristik siswi yaitu umur, usia pertama menstruasi, lama menstruasi, siklus mentruasi dan uang saku.

Rata-rata konsumsi daging dan buah berturut-turut 68 gram per hari dan 73 gram per hari. Asupan protein, besi, dan vitamin C berturut-turut 38,3 gram, 10,8 miligram dan 25 miligram, dengan tingkat kecukupan gizi berturut-turut 76,7%, 41,7% dan 33,4%.

“Rata-rata konsumsi pangan siswi untuk semua kelompok pangan lebih rendah dibandingkan dengan rekomendasi Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS), kecuali untuk lauk pangan hewani sudah mendekati anjuran,”kata tim peneliti IPB, Dodik Briawan.

Oleh karena itu, asupan zat gizi siswi juga rendah, baik untuk zat gizi makro (energi dan protein) dan mikro (zat besi, vitamin A, C). Estimasi bioavailabilitas zat besi sebesar 1,09 miligram atau 10,0% dan termasuk dalam kategori sedang.

“Ada hubungan yang nyata antara bioavailibilitas zat besi dengan konsumsi daging sapi dan ayam dan asupan vitamin C. Rata-rata kadar Hb sebesar 13,4 gram per dL, dan sebanyak 10 persen siswi menderita anemia,”paparnya.

“Kesimpulan kami adalah kadar hemoglobin berhubungan nyata dengan asupan vitamin C dan vitamin A,” kata Dian Hernawati menambahkan. Dalam siklus hidup manusia, salah satu kelompok yang berisiko tinggi terhadap kejadian anemia adalah remaja wanita. Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa.

Di Indonesia, prevalensi anemia remaja wanita masuk cukup tinggi, yaitu antara 20-40%. Penanggulangan anemia di Indonesia mempunyai tiga strategi yaitu suplementasi besi, pendidikan gizi dan fortifikasi pangan.

Penyebab anemia 50-80% diantaranya karena rendahnya kualitas konsumsi pangan masyarakat, termasuk diantaranya asupan zat besi. (pos)