Hallojogja.com, Jakarta – Jika kemudian sekarang, Dimas Salamun, atau yang akrab disapa Dimdim sukses dikenal publik musik, tetapi dibalik itu, ternyata ia menyimpan kisah panjang nan getir dalam hidupnya. Cowok ganteng kelahiran Jambi trah Jawa ini punya jalan hidup berliku.

Dia pernah menjadi sopir angkot dan petani karet di kampungnya. Tiap hari nderes (mengambil-red) getah di kebun karet, malamnya nyambi jadi sopir angkot. Kemudian, Dimdim hijrah ke Jakarta mengikuti audisi pencarian bakat, tapi beberapa kali hanya bias menikmati kehidupan panggung dengan bayaran ala kadarnya.

Sempat hijrah ke solo, dan menjadi penyanyi panggung. Bermodal suara yang merdu, job nya kencang, tapi karena ikut manajemen yang tidak jelas, dia hanya dibayar makan dan tempat tinggal. Dia jalani dengan iklas, sebagai ladang ujian. Karena menurutnya, setiap ujian hidup akan mendapatkan kelulusan lebih baik.

Tapi kehidupan itu ternyata keras. Dia sempat ditawari seorang pengusaha hiburan, akan diberangkatkan ke negeri Cina, sebagai tenaga penghibur. Sehari menjelang keberangkatan, dia baru sadar kalau dirinya mau dijual dan dipekerjakan sebagai tenaga ilegal di negeri tirai bambu itu.

“Salahnya saya nggak baca isi kontraknya. Untungnya ada saudara yang membantu menyelamatkan saya dari cengkraman mafia tenaga kerja itu,” katanya menceritakan kisah hidupnya.

Dimdim memang punya sejarah kelam. Tapi pantang menyerah. Dagang pecel lele dan bubur bayi pernah dijalani. Orangnya tidak bisa diam, jiwa petualangan dan wirausaha ada dalam dirinya. Bahkan dia tidak gengsi jualan sepatu di lapak kaki lima. “Kerja apa aja yang penting halal,” katanya kepada media dalam obrolan di ruang CEO PT. Media Musik Proaktif, Selasa (22/8/2017).

Cowok yang memiliki vocal berkarakter ini melanjutkan, ketika kondisi terpuruk, dan selalu dibohongi orang, dia ketemu teman-teman jebolan band ternama, diantaranya Kibo yang pernah bergabung di Band Bagindas, lalu Ary mantan personil Vagetoz, Rizal pernah di grup Goliat, ditambah Randi juga jebolan band ternama. Bergabunglah mereka membentuk grup band Patriot, dengan  mengusung genre musik pop melayu. Patriot, berada di bawah naungan label Infinity Musik Indonesia (IMI), dan mereka di tangani oleh tokoh-tokoh penting di jagad musik negeri ini.

“Kami bersyukur Patriot berada di bawah asuhan produser dan talent scoting ternama. Diantaranya mas Ary Lazuardi (saat ini Managing Director Musik Proaktif), pak Younky (pernah mengorbitkan DBagindas, Setia Band, Ungu, dan lain-lain, serta ada pak Agi (produser Trio Macan-red),” kata Dimdim.

Support dari para pelaku bisnis musik itu, membuatnya optimis. Maka Patriot diharapkan menjadi band yang diperhitungkan di negeri ini.

Single perdananya berjudul ‘Sakit Hati Ini’ sudah di rilis seminggu yang lalu, dan peluncuran perdana video clipnya di youtube, dilakukan kemarin, dan langsung mendapatkan respon masyarakat.

Menurut Dimdim, Patriot adalah ladang kreatifitasnya, dan mudah-mudahan yang terakhir sebagai sandaran karir dalam hidupnya, setelah malang melintang di dunia panggung. Bahwa bermusik, bagi mereka yang terpenting memberikan hiburan yang maksimal. Uang bukan  segala-galanya. Tapi ihktiar kreatifitas pasti akan menghasilkan sesuatu. (etw)

 

Kontak Iklan dan Redaksi 

Yogyakarta – Jl. Puntodewo 1. Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta

Telp : 0811 2212 069 – 0812 2822 5439 – 0812 2581 1796 Email: redaksi.hallojogja@gmail.com, marketing.hallojogja@gmail.com

Jakarta Media Center, Jl. Raya Petani No.12. Duren Tiga, Jakarta 12760

Telp : (021) 2753 1693

Twitter: @hallojogja1
FB: HalloJogja.com