Hallojogja.com, Yogyakarta – Selain sebutan sebagai kota wisata dan pelajar, Yogyakarta juga  menjadi pusatnya para pengrajin dengan berbagai bahan pokok kerajinan yang tersedia seperti perak, kuningan, kulit, tanah liat, kayu, kain batik hingga souvenir rangakian bunga kering. Sebut saja salah satunya di desa wisata kawasan Kasongan, Bantul disini menjadi pusatnya pengrajin gerabah, ukiran serta kerajinan lainnya hasil karya masyarakat setempat. Harga jual yang beragam membuat para wisatawan khususnya domestik (wisman) leluasa memilih belanja sesuai kemampuan kantongnya, mulai dari yang harga lima belas ribu hingga nilai ratusan ribu. Yang kini sedang laris manis adalah souvenir rangkaian bunga kering, selain harga yang terjangkau juga mudah membawa pulang cukup ditenteng untuk oleh oleh cinderamata kenangan setelah berkunjung ke Yogyakarta.

Kenaikan omset mulai hari ini sudah terasakan menjelang hari raya idul fitri, dan pesanan pun mulai mengalir dari para pedagang diluar kota Yogyakarta, seperti dituturkan oleh Agus, pengrajin bunga kering di Kasongan, “ Ada kenaikan jumlah permintaan dari pada pedagang luar kota, karena memang kami banyak melayani para pedagang dalam partai besar, bukan eceran langsung konsumen, berbagai kota yang ambil produk saya dan sudah langganan lama, biasa mereka datang dari wilayah Jawa ada juga beberapa dari luar Jawa”

BungaKeringKasongan2
foto: Gandung K.

Dari hasil berbisnis rangkaian bunga kering setiap bulannya bisa meraup omset 15 hingga 25 juta perbulan dengan keuntungan sekitar 20 persen, dan akan meningkat saat menjelang lebaran bisa mencapai 25 hingga 35juta. Bahan baku dari rangkaian bunga kering ini diambil dari Solo sedangkan untuk kebutuhan bambu diambil dari Dieng Jawa Tengah, dan pelengkap lainnya pot bunga diproduksi sendiri dari pengrajin lokal Kasongan dengan berbagai kreasi mengikuti selera konsumen.

“ Saya memang lebih memilih sasaran konsumen lokal, harga murah meriah perputaran modal bisa lebih cepat, beda dengan pasar luar negeri agak ribet dan njlimet perputaran modal lama, sekarang cari praktis dan amannya saja, meskipun hasilnya tak sebesar pasar luar negeri gak apa apa tapi lancar “ jelas Agus yang jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Bunga kering dijual dipedagang bervariasi mulai 20 ribu hingga 500 ribu rupiah sampai dipedagang biasa mereka mengambil keuntungan 10 hingga 15 persen sampai ditangan konsumen. Untuk lebih meningkatkan omset penjualan para pengrajin bunga kering, membutuhkan perhatian dan dukungan dari dinas terkait di Yogyakarta, seperti diselenggaran pameran bersama secara berkala diberbagai kota yang bisa dipadukan dengan kegiatan promosi wisata. (dung)