Hallojogja.com, Sleman – Badan Narkotika Nasional Kabupaten Sleman menjelaskan Penyalahgunaan narkoba di DIY mencapai 60.128, sepertiganya atau sekitar 22.000 baik domisili maupun TKP penyalahgunaan narkoba berada di Kabupaten Sleman.

Penyalahgunaan tersebut banyak terdapat di daerah Depok, Gamping, Ngaglik, Mlati, dan Kalasan.

Hal ini salah satunya sebabnya adalah banyaknya kos-kosan dan tempat hiburan malam yang berada di Sleman.

Menurut Kuntadi Kepala BNN Sleman kepada Hallojogja,Jumat (25/08/2017) menerangkan pada tahun 2015 Provinsi DIY menduduki peringkat ke 5 nasional dalam kasus penyalahgunaan narkoba. Tahun 2016 kasus narkoba cenderung turun dan DIY menjadi peringkat 8 nasional. Tahun 2017 ini kasus penyalahgunaan narkoba diharapkan terus semakin turun dengan target DIY dapat keluar dari 10 besar penyalahgunaan narkoba nasional.

“Prevalensi kita 2,2%, sedangkan usia efektif pengguna narkoba usia antara 10 hingga 59 tahun dimana terdapat lebih dari 830.000 orang dengan rentang usia tersebut di Sleman”, terangnya.

Kuntadi menambahkan bahwa kesadaran untuk melakukan rehabilitasi bagi para pecandu masih rendah. Pasalnya ada tiga anggapan masyarakat terhadap penyalahagunaan narkoba yang melandasi para pecandu untuk tidak melakukan rehab. Pertama narkoba dianggap sebagai kriminal, sehingga masyarakat yang mau melapor untuk rehab takut jika nanti ditangkap dan dipenjara pihak berwajib. Kedua, sebagian masyarakat menganggap kasus narkoba sebagai aib,banyak yang tahu anaknya menggunakan narkoba tapi orangtuanya menutup-nutupi.Ketiga yaitu anggapan masyarakat bahwa rehabilitasi membutuhkan biaya besar, padahal biaya rehabilitasi sepenuhnya ditanggung oleh BNN, Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial.

“Saat ini BNN Sleman menggandeng 9 puskesmas dan 2 RSUD di Sleman untuk melakukan rehabilitasi dan rawat jalan pada para pecandu narkoba,” tambah Kuntadi. (HP)