Hallobogor, Tamansari – Kampung Sindangbarang terletak di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor Jawa Barat. Berada pada ketinggian 400 meter diatas permukaan laut.

Berdasarkan naskah Pantun Bogor Curug Sipada Weruh,Sindangbarang sudah disebut-sebut pada jamannya pemerintahan Rakean Darmasiksa atau Prabu Wisnu Barata yang bermukim Di kota Pakuan pada abad XII.

Pada jaman Prabu Wisnu Barata perkembangan agama Sunda berkembang pesat dengan dituliskannya 3 kitab suci agama Sunda yaitu Sambada , Sambawa dan Winasa yang terdiri dari 800 ayat.

Kutipan Pantun Bogor memberitakan :,” Pikukuhan Agama Sunda dituliskeun dina Layang Sambawa, Sambada,Winasa,dituliskeun ku Parabu Wisnu Barata. Nya inyana anu tukang tapi ti ngogora. Nyainyana anu sanyeunyana ngagalurkeun jadi kabehan pada ngarti agama ani kiwari disebut Agama Sunda Pajajaran tea. …”

Pada masa Pemerintahan Rakean Darmasiksa , Beliau memerintahkan membuat Undakan-undakan suci di Sindangbarang.Kutipan Pantun Ki Kamal mengatakan ,”Ulah Sindangbarang geusan tata pangkat diganti deui, Sang Pamanah Sang Darmajati, tanah lemah tutup bumi , tutup buana dat mulusna….” (Jangan Sindangbarang sebagai tempat awal|Agama Sunda| diganti lagi, yang menyucikan |Pendeta| Sang Darma Jati, tanah tempat penaung Dunia, pengayom alam kesempurnaan)

Kata-kata dalam rajah tersebut mengindikasikan bahwa Sindangbarang dikategorikan “Tempat Suci” bahkan dianggap sebagai Penaung Dunia dan pengayom dari segala kesempurnaan.

Disebutkan pula penata kesuciannya bernama Sang Darma Jati. Rakean Darmasiksa digantikan oleh keponakannya Prabu Kalang Carita atau yang disebut juga Prabu Ragasuci.

Pada masa Prabu Raga Suci beliau juga memerintahkan membuat Punden Agung di daerah Sindangbarang. Pantun Bogor Tunggul Kawung Bijil Sirung menceritakan:

“Prabu Kalang Carita,nyieun Pamujan Agung di Mumunggang Giri Dwi Munda Mandala , Sajajaran jeung Taman, Disebutna Mandala Sanghyang Parakan Jati, Satonggoheun Talaga Sanghyang Tampian Dalem nyela bumi ti Kuta Babaton.” (Prabu Kalang Carita memerintahkan membuat Pamujan Agung di kaki lereng Giri Dwi Munda Mandala, berdampingandengan Taman dinamai Mandala Sanghyang Parakan Jati sebelah atasnya Sanghyang Talaga Tampian Dalem menyilang dari Kuta Batu)

Pantun Gede Ki Uyut Juru pantun Tunggul Kawung Bijil Sirung menceritakan ,” Balalayan Sanghyang Parakan Jati, Mandala Suci Pamujan kadatuan Sindangbarang saluareun dayeuh Pakuan. Saha tah anu ngeuyeukna..? Nya Inyana Pandita Agung anu ngaran inyana Sang Kumara Jati tea. Nya inyana oge anau ngabebenah Sanghyang Talaga Tampian Dalem salebakeunana,” (Babayalan Sanghyang Parakanjati, Mandala Suci Kadatuan Sindangbarang sebelah luar kota Pakuan. Siapa yang mengurusnya? Dialah PendetaAgung yang namanya Sang Kumara Jati. Dialah yang memperindah Sanghyang Talaga Tampian Dalem di sebelah bawahnya,”.

Berita ini memperjelas bahwa entitas Sindangbarang sebagai tempat suci memiliki Punden Agung Sanghyang Parakan Jati dan Sanghyang Talaga Tampian Dalem. Adapun Pendeta Kumara Jati dan Darma Jati merupakan orang yang sama. Mandala tersebut merupakan tempat peribadatan Agama Sunda di wilayah Kadatuan luar Dayeuh Pakuan, Kadatuan Surabima Sindangbarang.

Saat ini di Sindangbarang telah ditemukan lebih kurang 33 buah Punden Berundak yang tersebar di Wilayah Desa Pasir Eurih. Punden-punden berundak inilah yang diceritakan oleh Pantun Bogor. Sebagian Punden Berundak ini masih ada yang utuh dan sebagian lagi tinggal separo karena rusak ditelan jaman.

Adapun sisa peninggalan Kadatuan di Sindangbarang lainnya berupa Taman Sri Baginda dan Sumber air Jalatunda, yang cenderung masih utuh. Taman Sri Baginda adalah sisa taman Kerajaan Sindangbarang berupa Kolam berukuran panjang 45 meter dan lebar 10 meter, sumber airnya berasal dari Jalatunda.

Dahulu kala diatas Taman Sri Baginda terdapat Balai Mercukunda yaitu Balai Kambang berbentuk segi delapan tempat beristirahatnya Keluarga Raja. Mengenai Sumber air Jalatunda, Pantun Bogor menceritakan bahwa pada jaman Kerajaan, setiap Putra Mahkota harus tapa direndam dalam air Jalatunda selama 40 hari 40 malam.

Bila lulus dari tapa tersebut maka diperkenankan untuk menjadi Raja yang berikutnya. Mengenai Sanghyang Talaga Tampian dalem, saat ini masih ada berada di Lembur Taman. Berupa Telaga yang luasnya hampir 6 Ha, dahulu ketika saya SMA di pinggiran telaga tersebut masih terdapat Dinding batu yang mengitari Telaga.

Sayangnya Revitalisasi Telaga Taman yang dilakukan Pemda menghancurkan dinding batu tersebut dan diganti dengan Beton. (Sumber : A. Mikami Sumawijaya, Beliau adalah Pupuhu di Kampung Budaya Sindangbarang) –

Lokasi : Kampung Budaya Sindang Barang berada di Jalan E Sumawijaya, Desa Pasir Erih,Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor – Jawa Barat
(Reportase : Brata Dilaga, Bogor)

(Salam Redaksi. Buat para sahabat yang punya tulisan kisah legenda atau cerita/dongeng dari orang tua/karuhun/kokolot mengenai peninggalan sejarah atau asal-usul nama tempat/kampung di Bogor, yuks berbagi cerita dengan kami. Kisah legenda dapat dikirimkan kepada, email: redaksi@hallobogor.com , SMS/WA: 082196677788)