Hallojogja.com, Gunung Kidul – Pemerintah Desa Sodo, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunung Kidul, mendorong warga untuk mengembangkan kerajinan berbahan baku bambu karena menjadi salah satu ciri khas desa tersebut.

“Awalnya hanya membuat tampah, alat pengukus (kukusan), bakul dari anyaman bambu, parutan, serta sangkar ayam. Mereka menjual di pasar-pasar tradisional daerah Wonosari,” kata Kepala Desa Sodo Sunarya di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (3/10/2018).

Dia mengatakan kerajinan sudah digeluti warga sebagai salah satu mata pencaharian pokok. Seiring berjalannya waktu, produk kerajinan di Sodo semakin dikenal. Akhirnya konsumen banyak memesan. Pengerjaan yang halus serta rapi menjadikan produk kerajinan diminati. Tak hanya kerajinan bambu, lalu berkembang ke kerajinan lainnya seperti perak dan kerupuk kulit.

“Dari permintaan yang mulai berdatangan masyarakat, akhirnya kami mempunyai gagasan untuk membuka industri. Dulunya hanya kerajinan bambu, tapi saat ini juga ada sentra kerajinan perak dan kerupuk kulit,” katanya.

Sunarya mengatakan saat ini dari 4.000-an lebih jumlah penduduk yang seperempatnya bergelut dalam dunia industri kerajinan. Hal itu tentu saja membuat kesejahteraan masyarakat meningkat.

“Soal kesejahteraan masyarakat di Desa Sodo saya berani mengatakan lebih sejahtera dari wilayah lain. Karena di sini selain bertani, masyarakat juga berindustri,” katanya.

Salah seorang perajin bambu asal Dusun Selorejo, Desa Sodo, Harmono mengatakan bahwa dirinya memulai usaha kerajinan sangkar sejak tahun 1996. Ia mengaku bahwa industri kerajinan bambu asal Desa Sodo sangat diminati oleh konsumen.

“Kerajinan di Sodo terkenal halus dan rapi. Jadi konsumen sering memesan kepada kami (pengrajin di Desa Sodo), kata Harmono.

Dikatakan industri kerajinan khususnya sangkar burung mengalami masa kejayaan pada 2011 sampai dengan 2012. Setiap bulannya, ribuan pesanan sangkar masuk kepada dirinya.

“Tahun itu pesanan sangkar untuk burung Kenari dan Pleci sangat laris. Namun akhir-akhir ini pesanan menurun, lantaran pengaruh peralihan jenis burung yang sedang tren yaitu lovebird dengan sangkar besinya itu,” katanya. (sut)