Hallojogja.com, Yogyakarta – Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta memperbanyak kajian manajemen lalu lintas dalam bentuk perubahan arus lalu lintas searah di sejumlah ruas jalan yang memiliki nilai perbandingan volume kendaraan dengan kapasitas jalan yang tinggi untuk mengurai kemacetan.

“Salah satu yang sedang kami kaji adalah di Jalan Bausasran. Tahun ini selesai kajiannya,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta Agus Arif di Yogyakarta, Selasa (10/9/2019).

Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta nilai volume capacity ratio (VCR) atau perbandingan antara volume kendaraan dan kapasitas jalan di ruas Jalan Bausasran sudah mencapai 0,8 atau hampir mendekati angka maksimal 1 yang berarti terjadi kemacetan di ruas jalan tersebut.

Menurut Agus, nilai VCR 0,8 di Jalan Bausasran terjadi pada saat-saat tertentu saja khususnya saat jam sibuk pada sore hari. Kepadatan kendaraan mengular dari ujung simpang empat Bausasran hingga mendekati simpang empat Jalan Gayam.

“Kami akan coba lakukan perubahan manajemen lalu lintas menjadi searah. Namun untuk arah arus lalu lintas masih dikaji, apakah dari timur ke barat atau sebaliknya,” kata Agus.

Meskipun demikian, dari gambaran sementara akan diberlakukan arus searah dari timur ke barat dan kendaraan dari barat ke timur dibelokkan melalui Jalan Purwanggan yang juga akan diberlakukan searah.

Kajian terhadap perubahan arus menjadi searah di ruas jalan tersebut tidak hanya dilakukan dengan sebatas memantau dampak kondisi arus lalu lintas di ruas jalan lain tetapi juga solusi yang harus diterapkan agar arus kendaraan di ruas jalan di sekitarnya tetap lancar.

Jika Jalan Bausasran dan Jalan Purwanggan diterapkan searah, maka dimungkinkan akan terjadi kepadatan lalu lintas di simpang empat Jalan Ki Mangun Sarkoro. ”Mungkin perlu dilakukan penyesuaian durasi lampu lalu lintas di simpang tersebut. Kebetulan, kondisi simpang tidak simetris,” katanya.

Setelah Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta mengantongi hasil kajian perubahan arus lalu lintas searah di Jalan Bausasran, maka akan dilanjutkan dengan proses sosialisasi ke masyarakat.

“Jika diberlakukan searah, maka jarak tempuh memang akan semakin panjang tetapi waktu tempuh bisa lebih cepat,” katanya.

Sebelumnya, Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta juga melakukan perubahan manajemen lalu lintas di Jalan Jagalan menjadi jalan searah. “Masyarakat pun sangat mendukung karena tidak lagi ada kepadatan lalu lintas di ruas jalan tersebut,” katanya.

Meskipun demikian, Agus berharap perubahan manajemen lalu lintas untuk mengurai kepadatan di Kota Yogyakarta tersebut juga diikuti dengan kesadaran masyarakat untuk mengutamakan menggunakan kendaraan umum dibanding kendaraan pribadi.

“Sebanyak apapun kami melakukan manajemen atau rekayasa lalu lintas tetapi jika masyarakat tetap lebih senang menggunakan kendaraan pribadi, maka kondisi jalan juga akan padat. Apalagi, pertumbuhan jumlah kendaraan sangat tinggi,” katanya. (ear)