Ayam Ingkung Jogja – jika kalian saat pertama kali mendengar nama makanan tersebut ada beberapa diantara kamu yang belum pernah mendengar nama makanan tersebut atau hanya mendengar selintas saja.

untuk masyarakat pulau jawa khususnya di kota Yogyakarta makanan ini pasti sudah tidak asing lagi bagi para warga lokal. karena memang makanan ini merupakan ciri khas makanan yang berasal dari kota yang terkenal akan kuliner gudeg dan bakpianya tersebut.

Kuliner seperti ayam ingkung merupakan kuliner tradisional khas pulau Jawa yang berbahan dasar ayam yang dimasak secara utuh dengan tambahan bumbu-bumbu tertentu. menu ayam ingkung umumnya hanya disajikan pada kegiatan-kegiatan tertentu seperti upacara keagamaan, peringatan hari besar, bentuk rasa syukur (selametan), dan upacara peringatan kematian. Bahan-bahan dasar pembuatan ayam ingkung juga tidak luput dari berbagai macam filosofi dan simbolisasi menjadikan diperlukan kajian lebih mendalam untuk melestarikan kuliner khas Jawa tersebut.

Sejarah Ayam Ingkung

ayam ingkung jogja

untuk ayam ingkung jogja tidak pernah diketahui awal mula ayam ingkung digunakan. akan tetapi, jika dirunut dari zaman dahulu, hewan seperti ayam merupakan binatang yang paling dekat untuk dipelihara dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan oleh human.

para penduduk pulau Jawa di pedesaan mempunyai pranjen (kandang ayam) yang letaknya tidak terpisahkan dengan pekarangan rumah. hewan ini memiliki posisi penting dalam kegiatan ritual untuk para masyarakat jawa.

di salah satu kajian yang diterbitkan oleh jurnal berjudul Nutrition and Food Science disebutkan bahwa menu kuliner ayam ingkung berasal dari kata “manengkung” yang mempunyai berarti berdoa kepada Tuhan dengan kesungguhan hati.

di jurnal tersebut juga disebutkan bahwa ayam ingkung jogja merupakan salah satu komponen pokok dalam tumpeng menjadikan sejarahnya pun memang tidak terlepas dari sejerah perkembangan tumpeng.

dipercaya bahwa awal adanya tradisi tumpeng (termasuk ayam ingkung) adalah antara kisar 5-15 abad yang lalu karena fakta bahwa, selama waktu itu, kerajaan di Jawa dipengaruhi oleh agama Hindu. dan juga, simbol-simbol di Tumpeng seperti beras gunung berbentuk, kemudian warna dan bahan-bahan yang dikenal sebagai refleksi dari budaya agama Hindu.

Menurut Dewi, istilah ayam ingkung disebutkan pada Serat Centhini II dalam pembahasan mengenai iwak pitik. dan juga Iwak pitik dalam masakan Jawa umumnya diolah menjadi makanan ingkung, opor, digoreng, betutu, tim dan sebagainya. dan juga Iwak pitik dijadikan sebagai sesaji (uba rampe) tidak hanya dimasak untuk keperluan sehari-hari.

Filosofi Ayam Ingkung

Dan juga ayam ingkung juga merupakan simbol dari kenikmatan yakni berupa kenikmatan dapat hidup didunia jadi sudah sewajarnya umat manusia harus bersyukur kepada Tuhan yang diwujudkan dengan cara memasak ayam menjadi hidangan yang sangat begitu lezat. dan juga hanya makanan lezat yang dipersembahkan kepada sang Kuasa.

Kuliner ayam ingkung juga disimbolkan sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan, ekspresi dari anugerah kebajikan yang sudah diterima sehingga para manusia dapat hidup dengan baik. menjadikan hal ini dicerminkan dengan rasa gurih, nikmat, hangat, dan legit yang terdapat pada kuliner ayam ingkung.

Dan juga ayam ingkung jogja yang dibentuk meringkuk mengambarkan seseorang sedang bersujud sebagai bentuk bersujud disitu adalah berserah diri kepada Sang Kuasa, membersihkan diri dari segala dosa dengan cara memohon ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

dan juga agar umat manusia tersebut berserah diri dan pasrah kepada Tuhan dan berdoa untuk dapat memohon petunjuknya. Dengan dilakukannya hal tersebut tidak lain adalah untuk memperoleh ketentraman dan kedamaian dalam hidupnya.

Ingkung Warung Ndeso

Setelah kita melihat sejarah dan filosofi dari ayam ingkung jogja, saat nya kita cek restoran atau tempat makan yang menyediakan menu lezat ini. jika dibandingkan dengan Kota Yogyakarta, kuliner di wilayah Bantul memang lebih cenderung ke kuliner tradisional, seperti bakmi jawa, sate klathak, dan tentu saja ayam ingkung.

daerah Bantul sendiri ada sebuah kecamatan yang terkenal dengan sentra dari kuliner ayam ingkungnya, yaitu kecamatan Pajangan.

Apabila ditempuh dari pusat kota, diperlukan waktu sekitar 10 – 20 menit, atau sekitar 12 km dari Kota Yogyakarta. kecamatan Pajangan sendiri terdapat beberapa warung ayam ingkung, salah satu yang paling terkenal adalah Ingkung Warung nDeso yang merupakan salah satu pelopor warung ayam ingkung di Guwosari, Pajangan.

tentunya dengan lezatnya ayam ingkung disini adalah bumbu areh yang digunakan sebagai pendamping ayam. tidak hanya itu saja disini juga tidak menggunakan bahan pengawet dan penguat rasa. kemudian dengan ayam kampung sebagai bahan baku olahan ayam sehingga lebih nikmat dan sehat.

kuliner ayam ingkung sangat pas disajikan dengan nasi gurih atau nasi uduk. tidak lupa dengan menu-menu pendamping lainnya seperti aneka sambal, gudeg manggar, tumis daun papaya, tumis kangkung, kemudian ikan wader, dan tentu saja kuah areh yang manis dan gurih.

Untuk harga ingkung tergantung dengan ukuran ayam. dan juga harga dari ayam ingkung utuh dibandrol mulai sekitar Rp 90.000 – Rp 120.000, dan untuk ayam ingkung potongan misal dada dihargai Rp 22.000. terdapat pula menu pendamping mulai harga Rp 2.500 – Rp 15.000.

Untuk ruangan makan didesain sederhana dan njawani dengan bangunan yang terbuat dari bambu. para pengunjung dapat memilih tempat duduk lesehan maupun meja-kursi. dan juga di tengah bangunan terdapat kolam ikan yang menambah sejuk pemandangan sekitar.

Warung nDeso buka mulai pukul delapan pagi. dan juga namun tetapi biasanya setelah jam makan siang, banyak menu yang sudah habis. oleh karena itu, apabila ingin mencicipi semua makanan disini disarankan datang sebelum jam makan siang atau sekitar jam 10-11 siang.

untuk dapat ke lokasi Ingkung Warung nDeso dapat ditempuh dari Jalan Bantul lurus ke selatan melewati Ring Road sampai bertemu dengan lokasi Masjid Agung Bantul belok kanan sampai bertemu tikungan ambil kiri dan ikuti jalan. lalu kemudian akan bertemu perempatan ambil arah kanan, setelah jembatan belok kiri dan akan menemukan baliho Warung nDeso.

Ingkung Mbah Cempluk

disaat liburan beberapa waktu yang lalu, kami bersama beberapa saudara memutuskan untuk berwisata ke kawasan Kaliurang yang terletak di ujung utara kota Jogja. di perjalanan, kami melihat beberapa tempat makan yang terbilang baru dan cukup menjanjikan untuk di coba, salah satunya adalah Warung Ingkung Mbah Cempluk.

dan juga warung ini bermula di kawasan Bantul, dan disebabkan oleh kelezatan rasanya, warung ini pun berkembang dan membuka cabang di lokasi Jl. Kaliurang KM. 16, Jogja. kami  sudah beberapa kali mendengarnya namun berhubung baru kali ini melihat warungnya maka kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak di warung ini. Yuk simak juga kuliner jogja maliboro.

supaya tidak terlalu kekenyangan, kami pun memutuskan untuk memesan setengah porsi ingkung dengan harga Rp. 50.000. lalu kemudian, kami pun juga memesan menu udang lombok ijo setengah porsi dengan harga Rp. 12.000. dan juga kami datang sedikit terlalu pagi sehingga suasana warung yang terbilang besar ini pun masih sepi dan tak banyak antrian.